Tips Bisnis Jual Beli Sapi yang Sukses

Ketika kita berjalan-jalan di daerah pedesaan, salah satu pemandangan khas di sana adalah adanya kandang sapi di sekitar rumah warga. Tidak semuanya demikian, pada pedesaan dengan kontur tanah tertentu, kandang sapi diletakkan di dekat ladang. Namun sudah barang umum kita ketahui kalau masyarakat desa banyak yang memelihara sapi untuk kemudian mereka jual. Bisa dikatakan, sapi adalah tabungan atau investasi mereka. Bila sewaktu-waktu membutuhkan dana segar untuk memenuhi kebutuhan, mereka bisa dengan segera menjual sapi yang ada di kandang.

Tentu saja bisnis jual beli sapi ini tak mudah dilakukan, perlu ada banyak hal yang dipelajari. Artikel ini akan mencoba memaparkan kepada anda beberapa hal yang perlu anda tahu soal memulai bisnis jual beli sapi. Sebelumnya ada artikel juga di website ini yang menuliskan soal yang sama, tetapi kali ini dengan pendekatan yang sedikit berbeda.

Baca: Bisnis Jual Beli Sapi

:: Peluang Bisnis Sapi

Seperti biasa, salah satu pertanyaan penting ketika orang hendak memulai sebuah bisnis adalah “bagaimana peluang bisnisnya?” Kalau peluangnya agak seret, kompetitor sudah banyak, selera masyarakat berbeda, pasar terlalu sempit, bahan baku mahal, dan sebagainya, tentu saja bisnis ini tak lagi menarik. Namun secara ringkas kita dapat meyakini bahwa peluang bisnis sapi ini masih sangat bagus. Masih sangat membuka peluang bagi anda untuk terjun memainkan uang dan insting bisnis anda di dalamnya.

Mengapa demikian? Ada banyak faktor yang mendorong. Pertama, kebutuhan masyarakat akan daging sapi masih relatif tinggi. Daging sapi ini dibutuhkan untuk konsumsi langsung atau dibuat olahan-olahannya. Kebutuhan akan semakin melonjak ketika mendekati hari raya. Karena keterbatasan produksi daging sapi dalam negeri, pemerintah sampai harus mengimpor daging sapi dari luar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan daging sapi. Kabarnya, sepanjang tahun 2014 lalu Indonesia mengimpor 53.139 ton kilogram daging sapi dari Australia. Jumlah yang fantastis, bukan? Faktor kedua adalah sebenarnya masih banyak lahan potensial di daerah pedesaan untuk bisa dijadikan kandang sapi atau peternakan sapi.

Namun yang perlu kita sadari adalah bisnis jual beli sapi ini ada beberapa jalur yang bisa dipilih untuk kita geluti. Kita bisa memotong satu saja, atau semua jalur sekaligus. Misalnya mulai dari pembibitan, penyemaian, pemeliharaan, penjualan, pemotongan sapi, dan sebagainya. Kita perlu memutuskan terlebih dahulu, kita akan bermain pada bagian mana.

:: Tren Bisnis Sapi

Barangkali yang kita tahu soal penjualan sapi adalah sesederhana ini: pembeli (konsumen) melihat-lihat sapi yang dijual, kemudian membelinya dengan harga yang disepakati dengan penjual. Biasanya yang menjadi ukuran adalah jenis sapi, jenis kelamin, dan ukuran sapi. Namun itupun juga sangat cair, sangat fleksibel. Ketika menjelang hari raya, tentu saja harganya jadi melonjak tinggi.

Namun ada kisah menarik di daerah Pasuruan—dan barangkali juga di daerah lain. Kalangan peternak di sana awalnya punya metode yang sama untuk menentukan harga sapi, tapi kemudian mereka menemukan metode lain yang sekiranya lebih adil dan saling menguntungkan. Metode itu adalah mengukur bobot sapi, atau metode “kiloan.” Jadi harga sapi dihitung per kilogram. Lantas cara menghitungnya adalah sapi itu ditimbang ketika masih hidup. Bobotnya lalu dikali dengan harga yang tadi sudah disepakati.

Mengapa ini menjadi penting? Karena ada masalah besar yang terselesaikan, yaitu ilusi ukuran sapi. Terkadang ada sapi yang berukuran lebih besar, tetapi ternyata ketika ditimbang bobotnya tak melebihi sapi yang berukuran lebih kecil. Dengan menggunakan kiloan ini semua menjadi lebih terukur dan saling menguntungkan. Untuk informasi, kisaran harga sapi hidup per kilogramnya bisa mencapai Rp 82 ribu per kilogram.

:: Sapi Lokal VS Sapi Import

Indonesia punya padang rumput yang sangat luas pada setiap pulaunya. Dengan potensi sebesar itu, mengapa kita masih sampai harus impor daging sapi dari Australia hingga lebih dari 50 ribu ton setiap tahunnya? Sederhananya adalah karena produksi sapi lokal tidak mencukupi kebutuhan permintaan masyarakat akan daging sapi. Dikabarkan kalau jumlah peternak sapi lokal sudah mulai menurun karena keterbatasan-keterbatasan yang ada, misalnya rumput berkualitas dan pakan sapi yang kian jarang. Di sisi lain, mereka yang beternak di sekitar pemukiman warga seringkali mendapat protes dari warga karena bau yang ditimbulkan dari peternakan tersebut.

Sebenarnya tidak banyak perbedaan yang dimiliki oleh daging sapi lokal dan daging sapi import. Perbedaan misalnya terletak pada harga. Ada yang menganggap sapi import lebih mahal karena melalui proses pengiriman dari luar negeri, tapi ada juga yang menganggap sapi lokal lebih mahal karena biaya penggemukannya lebih mahal. Namun sebagian besar informasi menyebutkan daging sapi lokal masih lebih banyak diminati karena banyak faktor.

:: Fungsi Rumah Pemotongan Hewan

Bila anda tergerak untuk memasuki bisnis jual beli sapi, pemerintah sebenarnya memiliki fasilitas untuk membantu warga. Salah satunya adalah rumah pemotongan hewan (RPH) yang banyak ditemukan di tempat-tempat yang agak jauh dari pemukiman. Di RPH ini anda bisa menitipkan sapi anda untuk diberi vaksin oleh petugas. Kita juga bisa menyewa RPH sebagai tempat untuk penggemukan sapi. Selain itu juga bisa dipakai sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli sapi. Jadi memang RPH ini perlu dimanfaatkan oleh anda yang bermain dalam bisnis ini karena banyak hal yang bisa kita lakukan di dalamnya.

Untuk informasi, ada beberapa saran yang bisa dipertimbangkan ketika anda ingin membuka peternakan sapi.

  • PSapi ditempatkan dalam satu kandang koloni.
  • Jangan mengikat hidung dan leher sapi karena membatasi geraknya, hal ini bisa membuat sapi stres dan kontra-produktif dengan yang kita harapkan.
  • Bila ada sapi yang hamil, pisahkan dia dari koloni. Tujuannya adalah supaya petugas dapat memantau sapi tersebut dengan lebih baik dan lebih intensif. Selain itu tempatkan dia pada kandang yang lebih mudah dijangkau supaya pemberian pakan sapi lebih mudah.
  • Buatlah kandang sapi yang terpadu. Tujuannya adalah memudahkan petugas untuk memantau kesehatan sapi, meringankan biaya pakan, dan memudahkan pembeli sapi untuk memilih sapi yang dikehendaki. Bahkan kalau bisa juga ada rumah pemotongan hewan di setiap areal kandang jadi lebih praktis.
  • Sebisa mungkin bebaskan sapi untuk berkeliaran di areal kandang. Ini sangat penting bagi perkembangan daging sapi. Tekstur daging yang dihasilkan barangkali akan sedikit lebih keras, tetapi justru lebih sehat. Kita tentu pernah melihat ada sapi yang selalu dikurung sejak kecil, bahkan untuk menggemukkan juga dengan cara disuntik. Mereka tidak bisa berjalan karena kandang sempit dan tak pernah dibiarkan keluar. Ini bukanlah cara yang disarankan untuk membesarkan sapi.

:: Pemain Bisnis Sapi Lokal

Setiap bisnis jual beli sapi biasanya sudah melalui beberapa jalur tertentu. Struktur yang hendak dituliskan di sini adalah apa yang umumnya terjadi di pedesaan di masyarakat Jawa. Paling tidak inilah pihak-pihak yang turut bermain dalam bisnis sapi lokal:

  • Blantik. Ini adalah pemain yang sering dianggap dominan dalam bisnis sapi lokal. Mereka mendatangi warga di pedesaan untuk menawar sapi mereka. Kemudian mereka beli untuk dijual ke pasar. Fungsinya mirip dengan makelar atau perantara.
  • Penarik Sapi di Pasar. Sesampainya dibawa blantik ke pasar hewan, siapa yang membawanya ke “kios”? Penarik sapi inilah yang bertugas melakukannya. Ibaratnya, di pelabuhan ada kuli yang mengangkut barang dari kapal ke truk (dan sebaliknya), di pasar hewan ada posisi ini.
  • Pengelola Pasar hewan. Mereka yang bertugas di pasar hewan, menyediakan fasilitas-fasilitas yang sekiranya diperlukan oleh pembeli maupun penjual di dalamnya.
  • Jagal/pemotong. Mereka yang bertugas memotong sapi untuk kemudian diberikan kepada pembeli.
  • Transportasi. Sudah jelas, mereka bertugas membawa sapi dari penduduk ke pasar hewan, dari pasar hewan ke tempat lain yang barangkali dikehendaki pembeli.
  • Petugas Kesehatan Hewan. Mereka yang memastikan sapi yang di peternakan dan akan dijual telah memenuhi syarat kesehatan.
  • Petani Ternak. Mereka yang membesarkan sapi hingga siap dijual. Di pedesaan biasanya satu keluarga memiliki 1 hingga 3 sapi. Namun dengan modal yang besar, seorang pengusaha bisa memulai peternakan dengan ratusan hingga ribuan ekor sapi.

Itulah pemain bisnis sapi yang memang relatif panjang. Hal ini sering dituding menjadi penyebab harga daging sapi relatif tinggi, karena rantai bisnisnya terlalu panjang. Namun saat ini petani ternak dimudahkan oleh teknologi—sejauh ada sinyal internet di pedesaan. Mereka bisa menawarkan langsung sapi mereka kepada pembeli, sehingga ada rantai bisnis yang disingkat. Harapannya tentu saja harga juga menjadi lebih terjangkau. Selain itu adanya komunitas online juga memungkinkan petani ternak untuk berbagi informasi penting satu sama lain.

No Comments

Post a Comment